Wednesday, October 29, 2008

THE BRANDALS, SUDDENLY I LIKE YOU




Jatuh cinta? Ah mana mungkin, terlalu cepat untuk mengatakannya sementara saya tak terlalu dalam mengenalnya. Suka? Kurasa ya. Dan itu adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan perasaan saya padanya. Ia mengajak saya menari lewat musiknya, satu hal yang tak saya prediksi karena ketika awal perkenalan ia bikin saya enggan. Glodag banget sih, pikir saya ketika ia membawakan Mobil Balapnya Naif dengan caranya sendiri. Entah kenapa saya bilang enggak asyik (mungkin karena saya terlanjur suka Mobil Balap versi asli kali ya?)

Tapi pada pertemuan kedua, ia menarik hati saya untuk melompat dan tersenyum padanya.
100% Kontrol mengalun dan merasuki gendang telinga untuk kemudian mengajak saya bergoyang mengikutinya. Sendirian saja dalam kamar bernuansa hijau yang dipenuhi buku dan kertas berserakan.
“ Lagu apa sih nih kok banyak kontrolnya? Blablabla… kontrol…kontrol blablabla..” batin saya dulu waktu pertama kali dengar tapi sekarang ternyata lagu yang kebanyakan kontrol itu kok terasa menyenangkan.

“Makanya Don’t Jugde the book by its cover!” hati mungil saya berteriak kecil, membuat saya tersipu lucu, agak malu.

Lalu secara musikalitas The Brandals itu bagaimana? Andai saja ada yang bertanya seperti itu pada saya terus terang saya hanya akan tersenyum lebar. Saya ini orang awam mana saya ngerti soal-soal begituan. Seperti kata orang musik itu kan universal setiap orang bisa menikmatinya meski tak paham bahasa atau kalimat yang terpaparkan( soundtrack-soundtrack lagu Manga Jepang yang suka saya dengar misalnya). Maka begitulah awal saya mendengarkan The Brandals. Tanpa mendengarkan liriknya saya pikir 100% Kontrol itu catchy (nonjok gitu istilahnya sekarang). Begitu juga dengan lagunya The Brandals lainnya- Lingkar Labirin, saya abaikan lirik lagunya dan enjoy dengan musiknya. Berlanjut dengan 24 Jam lewat (yang sialnya itu download kepotong..argggh!), Surat Seorang Proletar Buat Para Elit Borjuis, Is it You Girl dan Generator dari album Audio Imperialist (bener gak sih judulnya Generator?).

The Brandals, saya rasa saya menyukainya. Bersama-sama dengan Twelve Girls (itu lho dua belas cewek asal China yang jago memainkan musik-musik tradisonal china dengan konsep orkestra) serta Vanessa Mae mereka menemani saya duduk sekian lama di depan komputer, mengalirkan imajinasi lewat jemari lewat berbagai jalinan cerita yang entah kapan akan tamat.

Anyway, ada yang berniat menghadiahi saya CD-nya The Brandals dari awal?
Anu saya jujur kok jadi penasaran pengen dengar dia secara keseluruhan, hanya dari beberapa lagu yang-maaf-saya download secara gratisan. Yah nggak ngarep sih, tapi kalo The Brandals baca ini kali dia jatuh hati…eh berbaik hati gitu ding. Lha saya kan fans baru….

*pasang tampang kepengen mode on

I made this posting sambil nulis cerita (yang uasal saja) plus goyang-goyang pala dihantam The Brandals

Pic: taken from here

Monday, October 13, 2008

MENGENANG KEMBALI BOM BALI I



Saya memang bukan korbannya, bahkan sampai kehilangan sanak dan saudara disana tapi saya ada disana untuk melihat betapa dahsyatnya akibat bali blast12 Oktober 2002.

13 Oktober pagi, kami dengar semua orang berkata Kuta telah diluluhlantakkan. Dengan mata yang belum genap terbuka, kami nongkrong di depan teve dan berurai airmata begitu menyaksikan beritanya. Begitu banyak kepanikan yang terekam, asap dan puing-puing berserakan. Banyak darah dan tubuh berceceran seolah tak ada harganya. Kenapa? Kami tak berhenti menyusut airmata dan mengutuk setiap kali stasiun teve yang kami lihat menampilkan Bali yang terluka.

Lalu mendadak Bali mendadak jadi sorotan besar-besaran. Kepanikan besar terjadi. Tiap sore kami melihat anggota AFP dan Polisi-Polisi Polda Bali wara-wiri di Kuta square. Pemeriksaan KIPEM (kartu penduduk musiman? Lupa artinya saya) terjadi dimana-mana. Tiap hari berita tentang kehilangan dan kehilangan terus terjadi, menggiriskan hati.

“ Banyak mayat bergeluntungan di Sanglah, di sana-sini banyak plastic berisi potongan tubuh korban,” kata seorang teman yang nekat ke Sanglah. Maka pesannya kemudian hanya satu, jangan berani-berani kesana jika tak punya nyali, jika tak mau menanggung resiko kehilangan nafsu makan dan susah tidur nyenyak.

“ Ini lho mobil ice cream Haagendaaz yang kepalanya hilang itu,” kata teman saya ketika kami sempat lewat diseputar TKP.
Saya melongoknya. Kacanya mobil itu bolong, hilang entah kemana. Saya geleng-geleng kepala membayangkan bagaimana ngerinya menemukan sesosok tubuh tanpa kepala, andai kisah itu benar adanya.

“ Jadi beginikah kondisi Paddy’s cafĂ©,” ucap saya dalam hati ketika saya melongoknya lewat gang kecil disebelahnya, setelah muter-muter cari jalan alternative untuk sampai ke TKP.
Botol-botol kratingdaeng masih berdiri, beberapa botol minuman keras entah dengan merk apa masih tegak, diantara perabotan seperti kursi dan sebagainya yang gosong-gosong dimakan api.

Di depan Sari Club, didepan police line yang terbentang saya berdiri. Saya lihat lubang besar menganga dijalanan tepat di depan Sari Club, sementara Sari Club sendiri sudah porak-poranda. Karangan bunga dan ucapan duka cita terhampar di depan Sari Club. Foto-foto kekasih, sahabat, anak atau siapapun yang hilang banyak tertempel disana termasuk boneka kesayangannya atau bahkan sandal jepit yang terakhir mereka gunakan. Lilin-lilin dinyalakan sebagai penanda duka cita, menggiringmu untuk ikut menangisinya. Beruntunglah saya karena saya hadir di TKP dalam kondisi sudah lebih baik, saat semua puing sudah dibersihkan.

Andai saja mereka dengar ketika seorang anak berkata ‘Kak, saya mungkin takkan les lagi, karena Bapak saya kena PHK’ seperti yang diceritakan teman saya.
Andai saja mereka mendengar banyak anak enggan sekolah karena trauma.
Andai saja mereka menyaksikan orang-orang yang tak bias nyenyak karena merasa mendengar tangis dan jerit tak berdaya di lokasi kejadian.
Andai saja mereka menyaksikan bagaimana banyak kehidupan yang tak ada kaitannya dengan perjuangan mereka terampas dan menimbulkan kedukaan.

Itukah harga yang pantas untuk sebuah perjuangan, sebuah jihad demi memerangi kebatilan (dalam hal ini Amerika)? Pertanyaan itu berurai dimana-mana, termasuk di otak saya.
Jika semua terjadi karena cinta, pada agama, pada keyakinan kita dibenarkankah kita menyakiti manusia karenanya?


pic : taken from http://upload.wikimedia.org/

Sunday, October 5, 2008

SERATUS EMPAT BELAS EMAIL DARI TUHAN


Seratus empat belas email Engkau kirimkan Tuhan, tapi selalu kulewatkan karena lebih asyik membaca milis-milis junk atau email dari gebetan

Seratus empat belas email Engkau kirimkan Tuhan, tapi jarang kuperhatikan karena aku sibuk dengan chatting dan blogging yang tak berkesudahan.

Seratus empat belas email kau kirimkan Tuhan, tapi selalu berakhir dengan pengingkaran seperti nasib janji kencan kita yang sebanyak lima tiap harinya.

Seratus empat belas email Engkau kirimkan tuhan tapi membacanya pun aku enggan, karena novel dan komik lebih mengasyikkan.

Tapi ketika sakit mendera, ketika lelah menyeruak jiwa aku datang padamu dengan tersedu. Mengadu penuh rasa haru berbareng dengan hujan rintik-rintik yang menjatuh dari pipi ke sela jari.

" Apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia ( kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya," peringatmu kala itu, menukil ayat 12 dari surat Yunus, email-Mu yang kesepuluh.

" Maka nikmat mana yang kamu dustakan?" tanyamu merujuk salah satu ayat yang tertera dalam Ar-Rahman, email-Mu yang ke-55 , mengingatkan aku atas kebahagian yang aku punya saat aku menggerutukan ketidakadilanmu atas harapan yang meleset dari jangkauan.

" Apa yang kau tunggu lagi gadis kecil? Jangan tunggu mengucap syukur atas nikmat yang kuberikan hingga matahari digulung dan gunung-gunung dihancurkan ," kembali kau ingatkan aku lewat At-Takwiir, email ke-81 yang baru kubuka sekarang.

Seratus empat belas email Engkau kirimkan Tuhan, mulai dari Al Fatihah hingga An Naas, dan aku begitu sombong hingga tak pernah menulis email balasan.


Banyuwangi, 31 Agustus 2008; 13;36

picture taken from www.e-picworld.com

Wednesday, September 10, 2008

CERITA FA DAN ESHA : SUAMIKU SAYANG SUAMIKU MENYEBALKAN

Fa
Akhir-akhir ini terpikir olehku untuk menjauh saja dari Mada, Ta. Bukan saja karena ia mulai semena-mena tapi juga aku juga capek menghadapi keegoisannya. Aku bukan robot yang tak kenal lelah melaksanakan seluruh tugas-tugas yang dibebankan padanya. Sebagai perempuan aku harus pintar-pintar membagi waktu antara kewajibanku sebagai istri, ibu dan karyawan sebuah perusahaan. Berat, Ta, karena itulah aku sakit hati bila Mada mengata-ngataiku tak becus gara-gara anak-anak menangis, masakan yang kurang sedap, baju dan dasinya belum disiapakan-lah, ini salah, itu nggak bener….Aduh, kenapa ia tak bisa melihat bagaimana aku berusaha mengerjakan semua? Sedihnya tiap kali aku mencoba membicarakan keberatanku padanya ia malah naik darah dan menganggapku berani menentang suami karena jabatan dan gajiku lebih tinggi.
Ya Tuhan, Ta…bukan itu maksudku. Aku hanya ingin suamiku mengerti dan mengatasi masalah kami bersama-sama, bukannya malah mengumpat dan menghardikku sedemikian rupa.

Esha
Nggak ngerti kenapa suamiku malas banget disuruh usaha! Lihat dong ini dunia nyata, butuh dana dan biaya untuk hidup. Bukan cuma melukis ini itu yang enggak laku. Bosan aku! Apa dia enggak mikir kalo apa-apa sekarang mahal? Apa dia nggak pernah khawatir gimana sekolah Frey nanti kalau terus menerus begini? Sekolah itu mahal, Ta…pake duit semua, nggak pake daun pisang. Eh lah kok malah dia berkata dengan seenaknya ,” Rejeki ada yang ngatur, ma.”
Ugh kesal aku! Harusnya dia bisa mikir kalau dia itu tulang punggung keluarga, bukannya aku. Harusnya dia yang menopang hidup kami, bukannya aku. Ah bosaaan……..

Pinta
Saya enggak tahu harus ngomong apa mbak, saya hanya ingin Mbak tahu kalau saya mengerti gimana rasanya hidup dalam keluarga dimana ibu menjadi tulang punggungnya. Dulu, saat usaha Ayah masih jaya, Ibu bukan siapa-siapa. Tetapi saat Ibu menjadi sesuatu, usaha Ayah mundur dan tak lagi menjanjikan seperti dulu. Sebagai anak saya tahu bagaimana usaha Ibu untuk terus menempatkan Ayah sebagai kepala rumah tangga tanpa mempersoalkan kalau ia adalah penopang keluarga. Sebaliknya, tak mudah bagi Ayah untuk langsung bisa menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Untunglah ayah bukan pria superior itu, yang selalu meminta dilayani oleh istrinya setiap waktu. Ayah bahkan tak canggung untuk mengasuh kami atau turun ke dapur bila ibu disibukkan oleh pekerjaannya.
Jika mbak bertanya semudah itukah beliau saling menyesuaikan diri hingga terlihat klik, kompak dan klop? Maka saya jawab enggak mbak, ada kalanya riak-riak kecil mewarnai perjalanan Ayah dan Ibu dalam menyamakan visi.
Pernah suatu hari Ta bertanya pada Ibu bagaimana caranya, Ibu hanya tersenyum dan mengatakan hal-hal yang dalam bahasa kerennya kita kenali sebagai komunikasi. Andai saja Ta yang berasa dalam posisi seperti Mbak, Ta juga enggak tahu mesti gimana (jelas aja ). Rasanya ngomong itu lebih gampang ketimbangJTa kan belum nikah mengalaminya ya? Ah semoga kalian baik-baik saja Mbak, tidak sampai mengalami perpisahan yang menyakitkan, sesulit apapun itu.


Done, 14:39, 010307
PINTA’S DAILY STORY(THE SERIES)

Friday, August 15, 2008

I LOVE YOU JUST THE WAY YOU’RE


From : Abang@yahoo.co.uk

To : Neng@gmail.com

Subject : I LOVE YOU JUST THE WAY YOU’RE

Selamat hari Minggu, Neng. Aku yakin duniamu secerah langit siang yang berwarna putih keperakan. Maafkan, jika keterusteranganku akan menyakitimu, tapi sungguh, Abang menuliskan ini karena Abang mencintaimu.

“ Bang, lihat…perut Neng melar. Neng pengen kurusan dari sekarang,” katamu saat kau lihat bayangan dirimu di kaca etalase salah satu mall besar.

Ya, ampun, Neng…apalagi yang mesti dikuruskan. Kurasa dengan ukuran tubuhmu sekarang kau cukup ideal. Tak perlu lagi mengejar tubuh idaman 2008-yang ceking, garing-seolah tinggal kulit pembalut tulang.

“ Abang, bohong! Neng nggak percaya kalau badan Neng ideal! Neng pengen kaya Tamara Bleszynski, Bang, atau Luna Maya. Tubuh mereka benar-benar sempurna,” bantahmu sebal ketika kukatakan badan Neng sudah ideal.

Ya, ampun, Neng…Peduli amat pada tubuh sempurna Tamara dan Luna Maya, karena cuma Neng yang Abang suka. Apa Neng sadar, segala hal yang Neng bilang kurang itu yang bikin Abang sayang. Tubuh Neng yang agak berisi itu justru bikin Abang pikir Neng lucu dan menggemaskan.

“ Neng, benci sama Abang!” gerutumu, ketika Abang melarang engkau melakukan diet ketat.

Oalah, Neng….Apa gunanya diet ketat jika tubuh, Neng, sudah proporsional di mata Abang. Lihatlah di kaca besarmu bukankah tak ada gundukan lemak keterlaluan hingga membuat perutmu terlihat dilingkari ular besar? Oke, memang sedikit mengganjal tapi Abang rasa masih dalam taraf wajar.

“ Gombal! Tubuh Neng tidak proporsional! Neng pengen terlihat keren seperti Rachel Weisz bintang iklan sabun itu, Bang…” rajukmu dengan mulut manyun dua sentian.” Pake obat pelangsing aja ya, Bang. Biar berat Neng turun. Kan Abang juga yang senang.”

Neng, sebagai pria Abang tak keberatan jika kekasih tercinta sekeren Rachel…siapa tadi? Weisz ya? Tapi buat apa jadi langsing bin merit jika Neng ko’it? Apa Neng tidak sadar jika minum obat sembarangan diri sendirilah yang jadi korban. Apa bagusnya pil pelangsing jika akibatnya jantung gemetaran, darah naik tak karuan, atau gagal ginjal?

“ Ya ampuun, bagusnya hidung Giselle Bunchend, Bang. Coba ya hidung Neng kayak gitu,” katamu ketika kau lihat model terkenal peranakan Jerman itu nampang di majalah Elle.

Masya Allah, Neng. Abang justru suka hidung mungil lucumu yang kau bilang pesek itu. Abang justru melihat hidung itulah yang pas menghias wajah bulat Asia-mu dan bukannya hidung Giselle Bunchend yang bangir bukan kepalang.

“ Kulit Neng, gelap deh, Bang. Coba lebih terang seperti Mbak Sari,” katamu ketika Mbak Sari lewat di depan kita.

Iya, Neng…Tapi sudahkah Neng tahu berapa yang Mbak Sari habiskan untuk kulit putih tanpa nodanya? Muahualll! Nggak bakal cukup gaji Neng sebulan jika harus datang ke dokter kulit atau salon terkenal langganan Mbak Sari demi kulit putih mencorong bak pualam.

Ah, Neng Cantik, kesayangan Abang…Setelah semua goresan hati Abang kau baca tandas, Abang hanya ingin katakan,
“ I LOVE YOU JUST THE WAY YOU ARE!”

pic : taken from photobucket

Sunday, July 27, 2008

TIPS MENGHADAPI EKSIBISIONIS (YANG SUKA NUNJUKIN ANU-NYA)



Menurut pengertiannya Ekshibisionis adalah penyimpangan seks yang menyebabkan seseorang senang memperlihatkan alat vital / alat kelamin kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya.

Berikut ini tips-tips untuk menghadapi mereka

  1. Selalu berhati-hati dimanapun berada

Tak jarang kaum ekshibisionis beraksi ditempat sepi. Jika terpaksa melewatinya (terutama jika sampeyan mendengar disana mereka beraksi) usahakanlah ada teman disebelah sampeyan supayan sampeyan nggak blank bin semlengeren jika tiba-tiba melihat ‘bazoka’nya yang teracung ke udara.

Meski tempat sepi adalah favorit mereka, bukan berarti mereka takkan beraksi di keramaian. Jaga jarak dan selalu waspada dimanapun berada, mereka bisa beraksi dimana saja termasuk di depan sekolah anak-anak sampeyan (jika sampeyan sudah punya anak). Sepengalaman saya, waktu kelas lima SD, saya dan teman-teman sekelas saya sering melihat ada seorang Bapak yang nekat ngeluarin senjatanya sambil dielus-elusnya di depan pagar sekolah.

2. Kenali situasi

Bagi yang belum pernah ketemu sama kaum penganut aliran Ekshibisionis ini (bukan ekspresionis lho!) mungkin agak susah, tapi setahu saya (karena beberapa kali mengalami) semua diawali dari muka ingah-ingih waktu sampeyan lewat di dekat mereka sambil nggosok-nggosok anu-nya.

Mungkin sampeyan akan dipanggil atau apalah kelakuannya agar sampeyan terprovokasi untuk melihat kearahnya, tapi biarkan saja. Berlalulah dengan indah. Jangan pedulikan jika ia mengeluarkan mantra sakit semacam ‘diamput, matamu, asem, semprul’ dan teman-temannya. Percayalah jika sampeyan sampai menoleh, sampeyan hanya akan disuguhi pemandangan bagaimana seekor burung pipit menjadi garuda.

Bisa jadi juga si ekshibisionis menguntit sampeyan lalu beraksi disaat yang tak terduga, maka selalu berhati-hatilah dengan orang dibelakang sampeyan. Meski begitu ya jangan digebyah uyah (alias disamaratakan), nggak lucu aja kalau sampeyan kehilangan kecengan karena terlalu parno..

3. Tetep biasa aja

Kemungkinan akan susah bagi sampeyan melakukannya jika belum pernah mengalami sendiri, tapi jika pun sampeyan melongo kaget usahakan liur jangan sampai netes ke tanah karena justru inilah yang bikin mereka merasa menang luar biasa. Berlalulah seolah sampeyan ndak melihat apa-apa. Pura-pura buta saja, meski sampeyan sudah pengen muntah. Karena setahu saya, keterkejutan sampeyanlah yang menghadirkan kepuasan.

4.JANGAN LARI DAN LAWAN KALAU BERANI!

“ Kata-katai saja! Bilang kalau anu-nya jelek! Pasti dia langsung nglimpruk kecewa! “ begitu kata teman saya yang telah mempraktekkannya.

Atau mau tips lainnya juga? Timpuk saja, itu pun dengan catatan anda berani dan punya kemampuan jadi sprinter handal. Buat jaga-jaga jika timpukan sampeyan bikin dia naik pitam hingga nggak segan membalas dengan kejam. Jika tidak, maaf saran buat nimpuk dia sebaiknya jangan dilakukan.

  1. DOA

Embuh apa tips yang sudah saya tuliskan tapi diatas semuanya, jangan lupa berdoa sebelum kemana-mana. Biar sampeyan tidak ketemu manusia demikian.

Oh ya jika setelah membaca ini sampeyan masih juga lari, saya bisa mengerti. Bagaimanapun juga tips yang nampaknya mudah untuk dilakukan seringkali susah jika sudah dipraktekkan. Saya ingat bagaimana teman-teman saya lari berhamburan ketika berhadapan dengan seekor ekshibisionis meski sudah mendengar wejangan di atas.

“ Enggak sih, gimana ya bentuknya?” tanya Mbak Fir yang nggak kebagian melihat aksi si ekshibisionis ketika teman-teman heboh membahasnya.

“ Waduuh! Kok kepikiran melihat bentuknya gimana[K1] , wong kita ini sudah bingung mau lari kemana kok?”

Geer, tawa pun melejit dari mana-mana.

pic : taken from photobucket

Sunday, July 13, 2008

JULY, 19TH


Nggak pake tiup lilin atau kue tart besar. Yang ada cuma pelukan, cipika-cipiki kecil dan ucapan selamat dari anggota keluarga rumah hijau nomer 93.Nggak ada yang terlalu istimewa jika hari itu tiba, semua hanya akan berlalu seperti hari-hari biasa lainnya.“Kamu lahir Selasa Kliwon, sekian (juta) tahun lalu subuh hari. Anggara kasih, begitu orang menyebut hari lahirmu, konon katanya orang yang lahir hari itu akan dikasihi banyak orang,” cerita emaknya, yang seringkali dikira kakaknya karena masih kelihatan muda di usia tuanya.

Si empunya 19 Juli melongo ,” Holoooh masa to? Kalo iya kenapa nggak ada yang pada terpesona waktu aku lewat di depan mereka. Buktinya kita masih jomblo ajah!”

Pek buk glodak!

Langsung saja bidadari mungil jelmaan hati kecil, yang ia dipanggilnya “ Ngel’ berujar gemas ,” Dodol kok dipiara! Dikasihi maksudnya bukan gitu kali, secara universal bukan melulu soal asmara. Piye to kamu ini?”
“Oooh…” Si Empunya 19 Juli manggut-manggut nggak ngerti.
“ Sudah nyangkut?” Ngel mengetuk-ngetuk kepala Si 19 Juli.” Jangan tulalit napa. Kamu pake kartu apa to nggak susah nyantolnya…”
“Mentari, 081 5594 18….”
“ Weis! Dasar tulalit! Maksudku bukan ituh! Itu sindiran buatmu yang mikirnya kependekan, tahu?! By the way, apa yang kamu pelajari dari hidupmu akhir-akhir ini?” suasana mendadak serius, Ngel menatapnya tajam (setajam silet…)
“ C-I-N-T-A.”
Bidadari jelmaan hati celangap. Ampuuun neek, kutu satu ini bicara cinta. Coba, apa sih yang mau dibicarakannya?

“Berdasarkan kisah nyata, Cinta itu laksana JELANGKUNG! Datang tak diundang, pergi tak diantar, diusir malah bersemayam. Dan yang lebih penting dia itu butuh tumbal, gimana enggak kalau karena cinta manusia jadi lebih edan? Itulah yang kusaksikan dari Kridut (Kriwil Dangdut), ketika ia berkata’

“ Jika saya tak bahagia (means memilikinya), gimana bisa aku membahagiakan ortu saya?”

“ Egois! Sedangkal inikah arti bahagia bagi para pecinta? Hanya akan bahagia jika memiliki kekasihnya tak peduli bagaimana perasaan orang-orang terdekatnya? Yang mencintai dia lebih dari 20 tahunan hidupnya di dunia!” gerutuku waktu itu sambil berharap bias nyiram air sekolam dikepalanya yang ngepul kepanasan.Tapi untunglah Ngel, aku masih sadar aku belum tentu bersikap bijak saat ketiban cinta sendiri.”
“ Cuma itu?”
“ Ya ndak to, above all aku bahagia.dengan apa yang kumiliki sekarang. Sehat, ndak punya utang, dicintai keluarga, punya teman-teman luar biasa yang sering tiba-tiba muncul dengan cerita-cerita uniknya tentang cinta mpe nangis segala, gaji naik biar sedikit, dan segudang mimpi yang bikin dunia ini lebih penuh warna. Tuhan begitu baik meski kadang aku menggerutu karena ia memberi hal yang kuminta pada lainnya. Hiks kurang ajar ya?”
“ Soulmate?”
“ Oh pacar dunia akhirat gituh? Yaeelaah, masih juga Inuyasha yang tercinta…meski dia tetap sibuk ngejar ngejar Kikyo nun jauh di dunia arwahnya. Capek memang mengikutinya, tapi seyakin Arai-nya Andrea Hirata aku berkata – Ibarat melempat Lumpur ke tembok itu….Lumpur itu akan membekas disana, apa pun yang kulakukan, walaupun ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya. Hebat kan aku?”

Ngel garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Beuuuuh! Si Kutu nggaya, sok berfilosofi segala.

“ Iya siiih, aku tahu aku nggak punya bola empat arwah yang bisa bikin itu siluman bertekuk lutut, tapi kan aku punya senjata andalan. Tuhan, Ngel, Tuhan. Aku minta saja langsung pada-Nya agar Inuyasha jadi milikku. Tapi kalau Inuyasha masih angot juga, aku punya cadangan Kenshin Himura kok. Meski kayaknya susah juga kalo harus bersaing dengan Kaori….”

“ 19 Juliiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!! Kamu ini manusia apa sejenis tokoh manga?! Anjriitt, naksir kok tokoh-tokoh anime yang gak nyata! RSJ Lawang pliiiss, ini ada pasien gila number one yang perlu ditangani!!” Ngel melotot kesal dengan ubun-ubun mengepul penuh asap.
Hihihihihi…19 Juli terkikik geli.

“ Oh ya yang terakhir, Ngel. Aku Cuma mau bilang kalau Hidup Itu Laksana Merajut, butuh kesabaran jika ingin mewujudkan sebuah harapan. Ada kalanya rajutan harus dibongkar, mulai lagi dari awal, merangkainya pelan hingga terjalin seperti yang diinginkan.”

“KUTUUUU! OMONGMU TU, MELEBIHI GUNUNG SEMERU!”
“ Last time, Ngel. Aku punya lagu untukmu, sebagai hadiah karena mau menemaniku si 19 Juli selama ini. Btw kalo ogah denger syairnya yang menye-menye dengerin aja suara denting gitarnya. Dijamin oke punya!” 19 Juli meraih gitar akustik disebelahnya, gitar yang dibeli seharga 200 rebu oleh bapaknya bertahun-tahun lalu.

CEMBURU (by SANDY)
[intro] Bm F#/A# A G F#

Bm F#/A# A G F#

Bm

Ku lelah

F#/A# A

terus menjadi

G

seseorang yang selalu

E/G# F#

ada untukmu

Bm

Ku ingin

F#/A# A

hubungan lebih

G

yang kau rasakan padanya

E/G# F#

kuinginkan juga

Cm G# A#/B A#

Ku cemburu

G# F/A G

bila kau dengannya

Cm G# A#/B A#

Ku cemburu

G#

karena kau adalah sebagian

F/A G

dari hatiku

Bm F#/A# A G F#

Bm

Lamanya

F#/A# A

kesetiaanku

G

menjadi pendengarmu dan

E/G# F#

penjaga hatimu

Bm

Ku inginkan

F#/A# A

hubungan yang lebih dari dia

G E/G# F#

Tahukah kau aku menderita demi cinta

Cm G# A#/B A#

Ku cemburu

G# F/A G

bila kau dengannya

Cm G# A#

Ku cemburu

G#

bila kau dengannya dan aku

F/A G

harus melihatnya

Cm G# A#

Ku cemburu

G# F/A G

karena kau adalah sebagian dari hatiku

Dm A# C/C# C A# A# A

Cm G# A#/B A#

Ku cemburu

G# F/A G

karena kau adalah sebagian dari hatiku

[coda] Bm F#/A# A G F#

“KUTU KUPRET! PERMAINAN GITARMU BELEPOTAN NGGAK JELAS MAIN APAAN! MINGGAT SANA SEBELUM AKU GETHOK PAKE GITAR! ARRGGGH!”
19 Juli terkikik geli, menyadari kalau permainan gitarnya takkan membuat telinga manapun ikhlas mendengarkan, karena ia baru belajar main gitar dua hari sebelum lagu cemburu diperdengarkan.