Terima kasih kamu mengagumiku, menyukaiku, bahkan mengejarku dengan gagah berani. Tak terhitung berapa banyak bunga yang kau kirim untukku, tapi maaf tak satupun membuatku terpesona. Soalnya aku alergi bunga, tiap kali membauinya aku langsung bersin. Maaf…
Oh ya aku juga tak boleh melupakan kebaikanmu atas sederetan hadiah yang sayangnya harus ku tolak. Aku tahu kamu jauh dari jelek, kamu sangat good looking hingga digandrungi banyak pria-pria tampan, yang tak segan menghujanimu dengan pujian bahkan segunung hadiah. Namun sayang aku tak tertarik padamu. Gimana lagi kamu bukan tipeku. Tahu kenapa? Karena kita sama-sama pria. Itu saja.
Done, 220207,15:23
PINTA’S DAILY STORY(THE SERIES)
Thursday, February 22, 2007
Saturday, February 17, 2007
CERITA SI KUDA PUSAKA
Alkisah kuda tua itu disebut Jaka Lara. Maklum didapat kala lara(=sakit) atau sengsara jaman baheula. Kata Bapak sih sebelum muncul kuda-kuda baru yang lebih keren, sepeda itu adalah pangeran di jamannya. Tapi semakin kesini semakin kesini, kuda tua itu tambah keriput, sudah nggak jaman dengan warna yang hitam pudar. Ketika saya tanya kenapa Bapak tidak membeli adik baru buat kuda kami, beliau menjawab,” Nunggu sawah di atas pohon bendho panen.”
Lha iya memangnya ada sawah nangkring diantara ranting pohon bendho? Mbok nunggu sampai kiamat ya nggak ada. Jadi intinya kata-kata Bapak itu kiasan dari hil yang mustahal….
Terus terang, Bapak menyayangi betul kuda tuanya. Dengan tangan dinginnya beliau menjaga agar si kuda tetap sehat di masa tuanya, sehingga bisa terus menjalankan kewajibannya sebagai tunggangan kami sekeluarga. Wajar, soalnya tanpa dia kami nggak bisa kemana-mana. Ialah yang berjasa mengantar kami pergi ke sekolah, dan seabreg kegiatan lainnya.
Tapi bagaimanapun juga hari perpisahan itu tiba juga. Dasar nggak rejeki si butut malah dicuri orang. Ck, ck, ck…apes betul pencuri itu, masa ndak lihat kalau si tua itu sudah sakit-sakitan. Jelas dia itu pencuri yang baru dapat SIM (surat ijin mencuri). Saya yakin dia bakal keteteran campur ngos-ngosan plus misuh-misuh (baca mengumpat) membawa kuda curian berbahan bensin campur (campur dorong maksudnya). Jujur saja cuma kami yang bisa membujuknya berjalan kencang, karena cuma kami yang paham seluk beluk si kuda tua. Tahu sendiri kan kalau kami sudah bersama-sama sejak dia baru lahir dari dealer hingga akhirnya dia dicuri orang. Ah akhirnya tutuplah kisah kuda pusaka kami, semoga si pencuri tidak menjualnya sebagai besi tua gara-gara putus asa. Semoga dia tetap menjualnya utuh sebagai penghormatan atas jasa-jasanya sebagai tunggangan kami sekeluarga.
Sekian lama berlalu…Thok! Thok! Seorang petugas berdiri di depan pintu kami. “ Oh ya Pak, kok pajak sepeda Bapak tidak pernah dibayarkan?” katanya setelah kami persilakan masuk. Semua langsung celingukan.
“Lho Pak…mau bayar pajak gimana? Lah wong sepedanya sudah digondol orang lama.”
“Oh…”
Hahahahaha….kami langsung terbahak begitu si petugas melenggang pergi. Oalah hitam, hitam meski sudah nggak ketahuan dimana kamu merumput kini, ternyata pajakmu masih ditanyakan.
Lha iya memangnya ada sawah nangkring diantara ranting pohon bendho? Mbok nunggu sampai kiamat ya nggak ada. Jadi intinya kata-kata Bapak itu kiasan dari hil yang mustahal….
Terus terang, Bapak menyayangi betul kuda tuanya. Dengan tangan dinginnya beliau menjaga agar si kuda tetap sehat di masa tuanya, sehingga bisa terus menjalankan kewajibannya sebagai tunggangan kami sekeluarga. Wajar, soalnya tanpa dia kami nggak bisa kemana-mana. Ialah yang berjasa mengantar kami pergi ke sekolah, dan seabreg kegiatan lainnya.
Tapi bagaimanapun juga hari perpisahan itu tiba juga. Dasar nggak rejeki si butut malah dicuri orang. Ck, ck, ck…apes betul pencuri itu, masa ndak lihat kalau si tua itu sudah sakit-sakitan. Jelas dia itu pencuri yang baru dapat SIM (surat ijin mencuri). Saya yakin dia bakal keteteran campur ngos-ngosan plus misuh-misuh (baca mengumpat) membawa kuda curian berbahan bensin campur (campur dorong maksudnya). Jujur saja cuma kami yang bisa membujuknya berjalan kencang, karena cuma kami yang paham seluk beluk si kuda tua. Tahu sendiri kan kalau kami sudah bersama-sama sejak dia baru lahir dari dealer hingga akhirnya dia dicuri orang. Ah akhirnya tutuplah kisah kuda pusaka kami, semoga si pencuri tidak menjualnya sebagai besi tua gara-gara putus asa. Semoga dia tetap menjualnya utuh sebagai penghormatan atas jasa-jasanya sebagai tunggangan kami sekeluarga.
Sekian lama berlalu…Thok! Thok! Seorang petugas berdiri di depan pintu kami. “ Oh ya Pak, kok pajak sepeda Bapak tidak pernah dibayarkan?” katanya setelah kami persilakan masuk. Semua langsung celingukan.
“Lho Pak…mau bayar pajak gimana? Lah wong sepedanya sudah digondol orang lama.”
“Oh…”
Hahahahaha….kami langsung terbahak begitu si petugas melenggang pergi. Oalah hitam, hitam meski sudah nggak ketahuan dimana kamu merumput kini, ternyata pajakmu masih ditanyakan.
Sunday, February 11, 2007
FAIR IS PAS PORSINYA
“Kira-kira siap nggak kalau suatu ketika suamimu poligami?”
Heh? Kepikiran aja enggak. Tapi akhirnya saya jawab juga pertanyaan itu,”Nggak tahu, lha belum pernah ketemu. Tapi semoga tidak, kenapa?”
Bundanya Firda kemudian bercerita, alkisah seorang perempuan yang sebelumnya menjadi istri kedua seorang pria, berubah status saat istri pertamanya meninggal dunia. Mengapa? Karena jika dulu ia jadi madu, kini ganti ia-lah yang dimadu lantaran sang suami menikah lagi.
Suatu ketika, sepulang dari haji, istri kedua si pria menelfon di tengah perjalanan pulang bahwa ia telah menyiapkan sambutan berupa selamatan besar di rumahnya. Si pria pun memutuskan untuk pulang ke rumah istri mudanya, sementara si istri tua ia biarkan pulang sendirian. Tahu apa yang terjadi kemudian? Si Ibu ( istri tua) pulang ke rumah dengan cara sembunyi-sembunyi, tak berani menampakkan kepulangannya saat siang hari.
Ndilalah, suatu hari saya iseng buka-buka Tarjamah Al Qur’an, mencari suatu ayat yang dikatakan Pak'e beberapa waktu lalu, tapi nggak ketemu juga hingga mata saya terantuk pada Surat An Nisa’ 129 yang artinya :
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung, dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Waduh, kok kayaknya mirip sih dengan cerita Bundanya Firda ya, gumam saya sendirian sambil berandai-andai saya menjadi Pak Haji, Bu Haji, dan Si Madu.
Andai saya Pak Haji, meski keputusannya akan menyakiti si Istri Tua, akan sulit rasanya menolak todongan si Madu. Coba bayangkan betapa mubazirnya selamatan besar itu jika Si Bapak tak datang, bisa-bisa perang besar pun tersulut gara-gara itu. Si Madu sendiri saking bahagia dan bangganya karena sang suami telah kembali dari tanah suci, langsung saja mengadakan acara penyambutan tanpa konfirmasi dulu dengan suaminya bagaimana baiknya jika tiba di rumah nanti. Sementara Si Bu Haji, secara positif (terlepas dari rasa malu karena dibiarkan pulang sendiri oleh suami), sesungguhnya ia berusaha untuk menjaga nama sang suami di mata khalayak. Bayangkan saja betapa repotnya bila orang-orang bertanya ,” Dimana Pak Haji?Kok pulang sendiri?”
Tapi apapun itu, soal poligami atau bukan, keadilan itu tidak gampang. Mudah diomongkan tapi sulit direalisasikan. Andai saya Adalah Ibu Haji saya nggak yakin bisa bersabar diri,bisa-bisa Pak Haji jadi DENDENG PAPI, bukannya dendeng sapi lagi. Haaak!! Ciaat! Bet..bet! Dikuliti, dibersihkan, dicampur bumbu, terus dikirim ke tujuan. Beres kan?
Tiba-tiba seekor lalat lewat dan bedengung," Pantas still single fighter,lah wong niatnya dah jelek genee..."
Brupp! Saya sikat lalat itu dengan sigap, dan ia pun terkapar sekarat.
(Hehehehe...yang terakhir cuma imajinasi, mana ada lalat bicara sih?)
Heh? Kepikiran aja enggak. Tapi akhirnya saya jawab juga pertanyaan itu,”Nggak tahu, lha belum pernah ketemu. Tapi semoga tidak, kenapa?”
Bundanya Firda kemudian bercerita, alkisah seorang perempuan yang sebelumnya menjadi istri kedua seorang pria, berubah status saat istri pertamanya meninggal dunia. Mengapa? Karena jika dulu ia jadi madu, kini ganti ia-lah yang dimadu lantaran sang suami menikah lagi.
Suatu ketika, sepulang dari haji, istri kedua si pria menelfon di tengah perjalanan pulang bahwa ia telah menyiapkan sambutan berupa selamatan besar di rumahnya. Si pria pun memutuskan untuk pulang ke rumah istri mudanya, sementara si istri tua ia biarkan pulang sendirian. Tahu apa yang terjadi kemudian? Si Ibu ( istri tua) pulang ke rumah dengan cara sembunyi-sembunyi, tak berani menampakkan kepulangannya saat siang hari.
Ndilalah, suatu hari saya iseng buka-buka Tarjamah Al Qur’an, mencari suatu ayat yang dikatakan Pak'e beberapa waktu lalu, tapi nggak ketemu juga hingga mata saya terantuk pada Surat An Nisa’ 129 yang artinya :
“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil diantara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung, dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Waduh, kok kayaknya mirip sih dengan cerita Bundanya Firda ya, gumam saya sendirian sambil berandai-andai saya menjadi Pak Haji, Bu Haji, dan Si Madu.
Andai saya Pak Haji, meski keputusannya akan menyakiti si Istri Tua, akan sulit rasanya menolak todongan si Madu. Coba bayangkan betapa mubazirnya selamatan besar itu jika Si Bapak tak datang, bisa-bisa perang besar pun tersulut gara-gara itu. Si Madu sendiri saking bahagia dan bangganya karena sang suami telah kembali dari tanah suci, langsung saja mengadakan acara penyambutan tanpa konfirmasi dulu dengan suaminya bagaimana baiknya jika tiba di rumah nanti. Sementara Si Bu Haji, secara positif (terlepas dari rasa malu karena dibiarkan pulang sendiri oleh suami), sesungguhnya ia berusaha untuk menjaga nama sang suami di mata khalayak. Bayangkan saja betapa repotnya bila orang-orang bertanya ,” Dimana Pak Haji?Kok pulang sendiri?”
Tapi apapun itu, soal poligami atau bukan, keadilan itu tidak gampang. Mudah diomongkan tapi sulit direalisasikan. Andai saya Adalah Ibu Haji saya nggak yakin bisa bersabar diri,bisa-bisa Pak Haji jadi DENDENG PAPI, bukannya dendeng sapi lagi. Haaak!! Ciaat! Bet..bet! Dikuliti, dibersihkan, dicampur bumbu, terus dikirim ke tujuan. Beres kan?
Tiba-tiba seekor lalat lewat dan bedengung," Pantas still single fighter,lah wong niatnya dah jelek genee..."
Brupp! Saya sikat lalat itu dengan sigap, dan ia pun terkapar sekarat.
(Hehehehe...yang terakhir cuma imajinasi, mana ada lalat bicara sih?)
Monday, February 5, 2007
SAAT LUANG
Wii segar! Tapi awas buah-buahan itu palsu, terbuat dari kaos bekas dan kain perca yang digunting sesuai pola. Baju itu tadinya polos tapi karena ingin beda akhirnya diberi aplikasi sulaman pita, yang ilmunya didapat melirik dan melihat diam-diam pada seorang penjahit terkenal. Tasnya bukan hasil bordiran, hanya sulaman tangan. Jangan tanya berapa lama membuatnya yang jelas mata, tangan, dan pinggang sampai pegal-pegal dey. Taplak berhias bunga dari kain perca itu juga sulaman tangan, bukannya bordiran. Sayangnya saya enggak bisa menjahit jadi harus minta bantuan saat merangkai tas dan merapikan pinggiran taplak meja.
Mulanya semua tak percaya kalau hasil kerajinan tangan itu adalah buatan saya. Wajar, kebanyakan orang berpikiran mana mungkin saya yang dianggap tomboy ini bisa mengerjakan keterampilan demikian. Kok pegang benang dan jarum untuk menyulam, masak aja paling-paling nggak bisa, ya kan? Hehehehe, whatever lah, meski enggak jago saya bisa melakukan keduanya (kalo lagi kumat rajinnya). Ini buktinya…(Oh ya by the way jangan dilihat tanggalnya, maaf yang ngeset tanggal dodol, masih juga 2005 padahal dah 2007)
Nah kalau stiker Escoret.Net itu jelas bukan bikinan saya. Stiker sakti itu kiriman keponakan saya, Dik Pepeng (iya dong, soalnya dia menyebutku Budhe). Lah kok sakti? Ini terbukti saat motor Pepeng terluka parah hingga terbelah, si stiker teteup nangkring di tempatnya dengan manis. Orangnya? Nggak tahu sih, tapi dari suaranya yang kenceng saat mengatakan “Uasem ki!”, saya rasa sih baik. Paling-paling lecet dikit plus lebam biru disana-sini… :D
Sunday, January 28, 2007
NITIP KTP KE TANAH SUCI
“Allah mewajibkan kepada manusia untuk melakukan ibadah haji, yaitu orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam.”
(QS. Al imran 97)
Mengacu pada hal itu maka wajar jika Ibu dan Bapaknya Tectona, sahabat saya kemudian menyambangi rumah Allah untuk menunaikan ibadah haji. Nah serunya, begitu mengetahui beliau hendak berhaji, mendadak semua orang berlomba-lomba menitipkan sesuatu untuk dibawa ke tanah suci. Apa coba? Nitip doa….Entah berapa panjang daftar doa yang telah dicatat Ibu Bapaknya Tec selain doa untuk keluarganya sendiri. Kalau menilik ceritanya sih daftarnya bisa panjang dan lamaaaa kayak ular naga.
Uniknya dari sekian banyak doa amanah tersebut ada satu titipan doa yang unik.Seorang ibu, tetangga Tec, yang kebetulan anaknya masih berjaya menggenggam gelar Single Fighter itu sampai menitipkan KTP segala pada ortu sahabat saya itu.
”KTP? Buat apa, Tec?”
“Katanya sih biar dibawa Ibu ke tanah suci.”
“Haa? Buat apaan?”
“Minta didoakan supaya dapat jodoh yang kuaya ruayua.”
Huahahahaha! Tawa saya melejit tak terbendung.
“Apesnya pas Ibu mau berangkat KTP-nya hilang. Nggak tahu tuh sudah ketemu apa belum.”
Saya tambah tergelak. Aduuh, kenapa nggak sekalian Biodata lengkap aja, Bu, batin saya geli. Tapi kemudian saya tersadar, andai saya adalah Ibu itu mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama. Walau terdengar aneh, namun demi anak tercinta apa yang tak bisa dilakukan oleh seorang ibu?
(QS. Al imran 97)
Mengacu pada hal itu maka wajar jika Ibu dan Bapaknya Tectona, sahabat saya kemudian menyambangi rumah Allah untuk menunaikan ibadah haji. Nah serunya, begitu mengetahui beliau hendak berhaji, mendadak semua orang berlomba-lomba menitipkan sesuatu untuk dibawa ke tanah suci. Apa coba? Nitip doa….Entah berapa panjang daftar doa yang telah dicatat Ibu Bapaknya Tec selain doa untuk keluarganya sendiri. Kalau menilik ceritanya sih daftarnya bisa panjang dan lamaaaa kayak ular naga.
Uniknya dari sekian banyak doa amanah tersebut ada satu titipan doa yang unik.Seorang ibu, tetangga Tec, yang kebetulan anaknya masih berjaya menggenggam gelar Single Fighter itu sampai menitipkan KTP segala pada ortu sahabat saya itu.
”KTP? Buat apa, Tec?”
“Katanya sih biar dibawa Ibu ke tanah suci.”
“Haa? Buat apaan?”
“Minta didoakan supaya dapat jodoh yang kuaya ruayua.”
Huahahahaha! Tawa saya melejit tak terbendung.
“Apesnya pas Ibu mau berangkat KTP-nya hilang. Nggak tahu tuh sudah ketemu apa belum.”
Saya tambah tergelak. Aduuh, kenapa nggak sekalian Biodata lengkap aja, Bu, batin saya geli. Tapi kemudian saya tersadar, andai saya adalah Ibu itu mungkin saya pun akan melakukan hal yang sama. Walau terdengar aneh, namun demi anak tercinta apa yang tak bisa dilakukan oleh seorang ibu?
Friday, January 19, 2007
DANGDUT? SIAPA TAKUT?
"Lho Rocker kok ngedangdut? Nggak malu?” semua orang terheran-heran ketika tiba-tiba si Raka berubah aliran. Lagu-lagu wajib dengar seperti Dream Theatre tiba-tiba diselingi lagu-lagu dangdut masa kini. Ia yang biasanya akrab dengan Steve Vai, Joe Satriani atau Yngwie Malmsteen tiba-tiba saja ribut mengulik melody lagu-lagu dangdut. Lho, ada apa denganmu, Ka? Ketika saya tanya mengapa ia menjawab,” Pindah aliran ke keroncong susah, ke musik jazz lebih payah. Ya udah dangdut aja.”
Lho memangnya kenapa dengan keroncong atau jazz?
“Suka tapi nggak cinta, telinga sih bisa terima tapi kalau meresapinya kayaknya belum deh. Habis jiwanya dah kadung nge-rock. Coba aja denger Indra Lesmana atau Krakatau, ditelinga sih bikin manggut-manggut tapi di otak jadi mumet. Susah…”
Saya tertawa, wah apalagi saya. Saya tak tahu dimana asyiknya musik jazz yang pemainnya terlihat seolah bermain sendiri-sendiri itu. “ Lha apa kamu nggak malu dangdutan? Katamu teman-temanmu suka merasa nggak elit kalau ketahuan pindah aliran gitu.”
“Aku kan nyemplung karena ingin tahu, ingin belajar, bukan menjadikannya lahan hidup. Jadi ya enggak apa-apa, lagipula dapat tambahan uang saku siapa yang nggak mau? “
Wah kalau motifnya uang susah dilawan dong dik, gumam saya dalam hati.
“ Tahu nggak apa yang paling asyik kalo pas ada tanggapan?”
“ Apa?”
“ Pas lagi ribut main, eh ada tawuran. Bayarannya tetep, tapi mainnya singkat!”
Saya ngakak, saya jadi teringat saat dia pulang dari sebuah hajatan sambil tertawa-tawa geli. Ia bercerita waktu itu musik baru saja dimainkan dan lagu-lagu pun belum banyak didendangkan saat tawuran kecil antar penonton terjadi. Tanpa dikomando lagi ia langsung melirik efek dibawahnya, siap-siap meraih kalau tawuran mendadak dahsyat. Bener saja, nggak lama kemudian terdengarlah suara Prakk! Brruuk! Gedebug!! Glodaaag!! Dengan wajah pucat, semua yang ada di panggung semburat turun sambil mendekap alat-alat dengan erat. Bisa apes nih kalau peralatan mereka kena gebuk orang tawuran, bayaran enggak seberapa eh alat malah rusak. Minus dong kantong…..Tapi yang bikin saya tertawa gelak tuh saat dia cerita bagaimana gaya penyanyi dangdut saat di panggung. “ Byuuh… goyangnya tuh dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai badan sampai getar semua lho!” ujarnya.
“Wii…Yessy Vibrator kalah dong.”
“Yang lain malah goyang muter-muter nggak jelas asal-usulnya sampai bikin celana jadi sobek segala. Ada lagi yang goyang model uleg-uleg, maju mundur nggak karuan, sampai tiduran segala. Coba? Seru kan?”
Saya ngikik sambil berkata,’ Bang Rhoma bisa semaput dong lihat penyanyi dangdut lokal goyang?”
“Bisa jadi…”
Tapi kemudian kegiatan bermusik mulai ditinggalkan saat ia menapaki bangku kuliah. Praktikum dan kuliah yang padat telah menyita waktunya.Kalau begitu mana sempat nge-rock, mana sempat nge-dangdut bila tidur dan makan saja sering dilewatkan? Hehehehehe………By the way happy b’day, sorry gak pake pesta hura-hura, yang ada cuma ucapan selamat serta cipika-cipiki, dengan tambahan semangkok bakso panas bikinan sendiri.
Lho memangnya kenapa dengan keroncong atau jazz?
“Suka tapi nggak cinta, telinga sih bisa terima tapi kalau meresapinya kayaknya belum deh. Habis jiwanya dah kadung nge-rock. Coba aja denger Indra Lesmana atau Krakatau, ditelinga sih bikin manggut-manggut tapi di otak jadi mumet. Susah…”
Saya tertawa, wah apalagi saya. Saya tak tahu dimana asyiknya musik jazz yang pemainnya terlihat seolah bermain sendiri-sendiri itu. “ Lha apa kamu nggak malu dangdutan? Katamu teman-temanmu suka merasa nggak elit kalau ketahuan pindah aliran gitu.”
“Aku kan nyemplung karena ingin tahu, ingin belajar, bukan menjadikannya lahan hidup. Jadi ya enggak apa-apa, lagipula dapat tambahan uang saku siapa yang nggak mau? “
Wah kalau motifnya uang susah dilawan dong dik, gumam saya dalam hati.
“ Tahu nggak apa yang paling asyik kalo pas ada tanggapan?”
“ Apa?”
“ Pas lagi ribut main, eh ada tawuran. Bayarannya tetep, tapi mainnya singkat!”
Saya ngakak, saya jadi teringat saat dia pulang dari sebuah hajatan sambil tertawa-tawa geli. Ia bercerita waktu itu musik baru saja dimainkan dan lagu-lagu pun belum banyak didendangkan saat tawuran kecil antar penonton terjadi. Tanpa dikomando lagi ia langsung melirik efek dibawahnya, siap-siap meraih kalau tawuran mendadak dahsyat. Bener saja, nggak lama kemudian terdengarlah suara Prakk! Brruuk! Gedebug!! Glodaaag!! Dengan wajah pucat, semua yang ada di panggung semburat turun sambil mendekap alat-alat dengan erat. Bisa apes nih kalau peralatan mereka kena gebuk orang tawuran, bayaran enggak seberapa eh alat malah rusak. Minus dong kantong…..Tapi yang bikin saya tertawa gelak tuh saat dia cerita bagaimana gaya penyanyi dangdut saat di panggung. “ Byuuh… goyangnya tuh dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai badan sampai getar semua lho!” ujarnya.
“Wii…Yessy Vibrator kalah dong.”
“Yang lain malah goyang muter-muter nggak jelas asal-usulnya sampai bikin celana jadi sobek segala. Ada lagi yang goyang model uleg-uleg, maju mundur nggak karuan, sampai tiduran segala. Coba? Seru kan?”
Saya ngikik sambil berkata,’ Bang Rhoma bisa semaput dong lihat penyanyi dangdut lokal goyang?”
“Bisa jadi…”
Tapi kemudian kegiatan bermusik mulai ditinggalkan saat ia menapaki bangku kuliah. Praktikum dan kuliah yang padat telah menyita waktunya.Kalau begitu mana sempat nge-rock, mana sempat nge-dangdut bila tidur dan makan saja sering dilewatkan? Hehehehehe………By the way happy b’day, sorry gak pake pesta hura-hura, yang ada cuma ucapan selamat serta cipika-cipiki, dengan tambahan semangkok bakso panas bikinan sendiri.
Sunday, January 14, 2007
Antara manusia dan hewan ciptaan-Nya
Tahukah bahwa ada beberapa hal yang sama antara manusa dan hewan saat sedang menarik pasangan atau mempertahankan diri? Let see…
Serangga mengeluarkan feromon seks saat ingin menarik lawan jenisnya. Tetapi karena manusia cuma bisa mengeluarkan bau badan alami bukan feromon seks alami, makanya kemudian timbul inisiatif untuk memproduksi berbagai wewangian dari bahan-bahan yang tersedia di alam untuk memikat pasangan. Lalu srot-srot, bau wangi yang menebar membuat lawan jenis terpikat. Tentu saja dengan catatan bahwa hasil yang didapat pada tiap orang berbeda, ada juga yang tetap ditolak meski memakai wewangian tujuh rupa (eh dukun kali…)
Burung-burung menggunakan kecantikan bulunya saat musim kawin tiba. Ia akan menunjukkan keindahan itu demi menarik pujaannya. Tak jarang mereka melakukan tarian sebagai jalan untuk memikat pasangannya. Manusia menggunakan pula taktik serupa, tentu saja tidak dengan memasang bulu-bulu super indah, tetapi menggunakan kecerdasannya untuk meramu berbagai warna indah agar pas dan enak dilihat lawan jenisnya. Contohnya dengan memakai baju atau make up warna-warni, dengan tujuan untuk dipuji. Mengenai tarian, manusia masa kini memang tak perlu menari seekstrem burung-burung itu untuk membuat pujaan jatuh hati, kita cuma perlu absen di depannya dan membuai dengan kata-kata yang indah. Bahkan dengan kemajuan teknologi kita bisa bersay hi to honey tanpa perlu setor muka hanya dengan berkirim email, chatting, atau berkomunikasi dengan ponsel yang ber-3G.
Secara alami hewan-hewan juga punya kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Seekor ikan buntal langsung menggembungkan tubuhnya bila ada musuh menyerang. Ikan lainnya punya bintik mata palsu di ekornya, hingga perhatian lawan bisa teralihkan dari kepalanya. Dan ziip..secepat kilat ia akan meloloskan diri saat ada ikan lain yang ingin memakannya. Bagaimana dengan manusia? Dengan kecerdasan yang dikaruniai Allah untuknya, manusia bisa membuat berbagai peralatan untuk melindungi dirinya mulai dari yang sederhana hingga yang canggih punya, yang sayangnya kini disalahgunakan untuk saling serang satu dengan lainnya, misalnya AK 47.
Serangga mengeluarkan feromon seks saat ingin menarik lawan jenisnya. Tetapi karena manusia cuma bisa mengeluarkan bau badan alami bukan feromon seks alami, makanya kemudian timbul inisiatif untuk memproduksi berbagai wewangian dari bahan-bahan yang tersedia di alam untuk memikat pasangan. Lalu srot-srot, bau wangi yang menebar membuat lawan jenis terpikat. Tentu saja dengan catatan bahwa hasil yang didapat pada tiap orang berbeda, ada juga yang tetap ditolak meski memakai wewangian tujuh rupa (eh dukun kali…)
Burung-burung menggunakan kecantikan bulunya saat musim kawin tiba. Ia akan menunjukkan keindahan itu demi menarik pujaannya. Tak jarang mereka melakukan tarian sebagai jalan untuk memikat pasangannya. Manusia menggunakan pula taktik serupa, tentu saja tidak dengan memasang bulu-bulu super indah, tetapi menggunakan kecerdasannya untuk meramu berbagai warna indah agar pas dan enak dilihat lawan jenisnya. Contohnya dengan memakai baju atau make up warna-warni, dengan tujuan untuk dipuji. Mengenai tarian, manusia masa kini memang tak perlu menari seekstrem burung-burung itu untuk membuat pujaan jatuh hati, kita cuma perlu absen di depannya dan membuai dengan kata-kata yang indah. Bahkan dengan kemajuan teknologi kita bisa bersay hi to honey tanpa perlu setor muka hanya dengan berkirim email, chatting, atau berkomunikasi dengan ponsel yang ber-3G.
Secara alami hewan-hewan juga punya kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri. Seekor ikan buntal langsung menggembungkan tubuhnya bila ada musuh menyerang. Ikan lainnya punya bintik mata palsu di ekornya, hingga perhatian lawan bisa teralihkan dari kepalanya. Dan ziip..secepat kilat ia akan meloloskan diri saat ada ikan lain yang ingin memakannya. Bagaimana dengan manusia? Dengan kecerdasan yang dikaruniai Allah untuknya, manusia bisa membuat berbagai peralatan untuk melindungi dirinya mulai dari yang sederhana hingga yang canggih punya, yang sayangnya kini disalahgunakan untuk saling serang satu dengan lainnya, misalnya AK 47.
Subscribe to:
Posts (Atom)