Sunday, May 13, 2007

CERITA SHINA : SAYA, SI GOYANG BIASA SAJA

Saya Shina, kelas dua SMA. Sudah sejak SD saya cari duit dengan bernyanyi, jual suara sana-sini sekedar bantu ortu dan memenuhi kebutuhan sendiri meski gara-gara itu mata bisa jadi bulat hitam kayak panda bila terlalu sering pulang larut malam. Bila sudah begitu biasanya hoaaaheemm…dan pluk! Lemparan kapur nyasar di rambut saya yang ikal. Ya, ya, ya Pak, Bu…sorry, saya pulang telat lagi, karena semalam habis show di hajatan orang.
Oh ya, tanpa perlu basa-basi jenis musik yang bikin saya dapat duit adalah dangdut. Dulu sih saya sempat segan, maklum cengkoknya susah diikuti. Namun lantaran tuntutan pasar, saya pun terbiasa menyanyikannya dan si cengkok pun keluar dengan sendirinya.
Dan seperti khalayak tahu yang namanya dangdut tanpa goyang ya kurang yahud. Maka begitulah tiap kali gendang ditabuh tak tak dut, sontak tubuh pun bergoyang mulai dari lembut malu-malu ala penyanyi baru hingga kencang tak beraturan ala penyanyi lokal kawakan.

Pernah saat turun panggung seorang kawan mencela gaya goyang saya yang nggak heboh-heboh amat. Katanya ,” Aduh, Shin…masa cekak gitu gayamu. Lihat gaya dong si Ayu Darah Biru, Si Meriah Eva, Atau Si Alfi Suka Nyisih yang penuh sensasi. Puter dunia ,Shin, goyang pantatmu. Contek abis mereka punya gaya…semakin heboh semakin deras duit mengalir ke saku.”
Huu!! Makmu itu! Bapakku bisa mati kaku kalau tahu aku begitu, batin saya meski bibir tersenyum ceria.
“Ya ampyuun?! Kenapa siy kalo manggung pake baju ala Teletubbies mulu? Yang seksi dong, Shin, yang pusernya nongol, pundaknya kelihatan, atau yang punggungnya bolong kayak gini ,” olok yang lain atas gaya busana saya yang mereka bilang ‘super sopan’ karena nggak membiarkan satu jendela pun terbuka lebar. Saya nyengir, habis gimana? Kalo bolong selebar itu aku takut jadi sering kerikan gara-gara masuk angin. Waks, bisa-bisa penonton kaget melihat punggungku yang belang-belang hingga berkata ,” Lho, kok ada macan besar dangdutan?”

Yang lebih seru lagi jika mendengar rumor yang berkembang di antara penyanyi, jangan kaget bila tiba-tiba kau dengar kata Anu, Si Goyang Yoyo pake susuk pemikat, si Goyang Kuda Lumping punya ajian entah semar mesem apa semar mendem, sedang Si Goyang Halilintar pake pantat palsu (made in Jerman kah?) untuk memantapkan penampilan. Hah, masa sih? Kok saya enggak ngerti?
“Ah kamu tuh mana ngerti Shin, lah wong yang lain pada nunggu giliran nyanyi dengan ngerumpi kamu malah nggedein liur, “ sambut Ismi menadahi kebengongan saya.
Ooh…saya tengah manggut-manggut sendirian, saat tiba-tiba nama saya dipanggil pembawa acara ,“……..Inilah Shina Paragita…!!”
Saya bangkit seraya mengibaskan baju sedikit. Mereka sudah menunggu aksi saya, Shina yang dijuluki “Si goyang biasa saja” , “Si goyang apa adanya” dan entah apa lagi kata mereka.

saya sang bintang pentas
bekerja bila malam tiba
malam kujadikan siang
siang berlalu penuh mimpi
dari pentas satu ke pentas yang lain
aku nyanyikan suara hati….

Hehehe suara hati? Tidak saya hanya bernyanyi bukan suara hati, batin saya sambil menyapu pandangan ke arah penonton yang bergoyang riang. Mendadak hati ini bertanya apakah pada akhirnya saya akan ikut arus untuk bergoyang mana tahan jika (sumpe lo) uang sudah jadi keinginan utama saya. Apa saya akan tetap bergoyang biasa saja jika tepukan dan kilat lampu panggung membutakan mata? Ya malam masih panjang, esok akan ada panggung lain yang akan saya temui. Sampai jumpa esok hari bersama Shina Si Goyang biasa saja…….

Done, 040507; 15:32
Pinta’s daily stories

No comments:

Post a Comment