Sunday, June 10, 2007

HERCULES

21: 57, my gokilest friend, Si Mr. Nggak Doyan Nonton tv sms

“Pin jam 22 Kick Andy seru…

Hehehehe tumben nonton , batin saya sambil mengarahkan pandangan ke metro tv.


Seperti biasa Kick Andy, talk show yang dipandu oleh Andy F. Noya selalu menghadirkan bintang tamu yang asyik. Dan kali itu ia mendatangkan Hercules, Si Preman Tanah abang kelahiran ex provinsi Tim-tim yang sekarang jadi negara tetangga timor Leste. Masuk dari balik layar, beberapa pria kekar nampak berjalan mengiringinya duduk di dekat Andy F. Noya.

Lho? Kok cuma gitu? Saya tertawa campur heran melihat bagaimana wajah asli Preman paling terkenal seantero Indonesia itu. Saya pikir yang namanya preman selalu berwajah sangar, garang, berbadan kekar, dengan daging yang menyembul disana-sini, perut six pack…persis seperti gambaran preman yang banyak disuguhkan di film-film atau tv. Ternyata enggak, Si Hercules ini justru terlihat sebaliknya. Tampangnya jauh dari sangar, body kutilang alias kurus tinggi langsing dengan rambut Keriting yang dicukur rapih. Bahkan dalam satu kesempatan Andy mengatakan ,”Preman kok lucu..” gara-gara saat wawancara dengannya ia merasa banyak tertawa.


Yang lebih mengejutkan meski preman tapi Hercules selalu berpesan kepada adik-adikny agar tak memeras pedagang kecil dan memperkosa. Bahkan konon kabarnya karena kehadirannya dan kelompoknya kasus-kasus pencopetan justru turun drastis. Saat ditanya kok bisa, pria ini menjawab bahwa jika mereka menemukan orang-orang seperti ini maka si pelaku akan dihajar habis. Fakta lain menunjukkan preman satu ini punya jiwa sosial yang sulit dipercaya bisa dilakukkan orang sepertinya, bahwa ia sering memberi bantuan kepada korban-korban bencana alam atau kebakaran tanpa diminta(saya lupa bantuan apa saja dan kepada siapa seperti yang disebutkan andy F. noya).


Ck, terlepas dari keburukan atau kejahatan yang dilakukan si Mas Hercules,tapi mengapa terasa kontrasnya dengan kelakukan banyak pemimpi di atas sana ya? Orang-orang yang katanya berpendidikan, sopan, beradab, berbudaya seringkali jadi momok bagi sesamanya. Mereka yang mengaku berjuang atas nama rakyat tapi tidak jarang menikam dan meninggalkan masyarakat bawah yang mendukungnya.

Andai saja Nafisah, wanita ahli ibadah yang lahir di Makkah tahun 145 H, sempat melihat bagaimana perbuatan para pemimpin itu pada rakyatnya, mungkin saja ia juga akan menulis surat berisi peringatan di sobekan kain, seperti yang dilakukannnya pada penguasa Mesir di zamannya yang dzalim, seperti ini :


Kau memiliki harta, namun kau juga menahan orang yang tak berharta

Kau punya kekuasaan tapi kau juga memaksa.

Kau punya keagungan tapi kau juga menindas

Harta masyarakat mengalir padamu tapi kau malah enggan memberikannya kembali

Inilah kezalimanmu, padahal kau tahu pasti doa orang-orang di waktu sahur merupakan jendela menuju Tuhan yang pasti diterima.

Terlebih doa itu berasal dari hati yang telah kau sakiti, tubuh yang kau buat lapar, tubuh yang telah kau telanjangi.

Mustahil bila orang terdzalimi mati sedangkan orang dzalim masih tetap hidup, berbuatlah sekehendakmu, sesungguhnya kami bisa bersabar.

Berbuatlah jahat sesukamu karena kami hanya bisa mengharapkan Allah yang akan membalasmu, berbuatlah dzalim sesukamu karena kami bisa mengadukannya pada Allah, dan dihari nanti orang-orang yang berbuat dzalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali

Maka keadilan akan datang pada waktunya”


Pfffiuuuhh!! Syyuhh, jadi menurutmu lebih baik mana antara Hercules dengan para pemimpin yang suka basa-basi?

No comments:

Post a Comment