Monday, October 13, 2008

MENGENANG KEMBALI BOM BALI I



Saya memang bukan korbannya, bahkan sampai kehilangan sanak dan saudara disana tapi saya ada disana untuk melihat betapa dahsyatnya akibat bali blast12 Oktober 2002.

13 Oktober pagi, kami dengar semua orang berkata Kuta telah diluluhlantakkan. Dengan mata yang belum genap terbuka, kami nongkrong di depan teve dan berurai airmata begitu menyaksikan beritanya. Begitu banyak kepanikan yang terekam, asap dan puing-puing berserakan. Banyak darah dan tubuh berceceran seolah tak ada harganya. Kenapa? Kami tak berhenti menyusut airmata dan mengutuk setiap kali stasiun teve yang kami lihat menampilkan Bali yang terluka.

Lalu mendadak Bali mendadak jadi sorotan besar-besaran. Kepanikan besar terjadi. Tiap sore kami melihat anggota AFP dan Polisi-Polisi Polda Bali wara-wiri di Kuta square. Pemeriksaan KIPEM (kartu penduduk musiman? Lupa artinya saya) terjadi dimana-mana. Tiap hari berita tentang kehilangan dan kehilangan terus terjadi, menggiriskan hati.

“ Banyak mayat bergeluntungan di Sanglah, di sana-sini banyak plastic berisi potongan tubuh korban,” kata seorang teman yang nekat ke Sanglah. Maka pesannya kemudian hanya satu, jangan berani-berani kesana jika tak punya nyali, jika tak mau menanggung resiko kehilangan nafsu makan dan susah tidur nyenyak.

“ Ini lho mobil ice cream Haagendaaz yang kepalanya hilang itu,” kata teman saya ketika kami sempat lewat diseputar TKP.
Saya melongoknya. Kacanya mobil itu bolong, hilang entah kemana. Saya geleng-geleng kepala membayangkan bagaimana ngerinya menemukan sesosok tubuh tanpa kepala, andai kisah itu benar adanya.

“ Jadi beginikah kondisi Paddy’s cafĂ©,” ucap saya dalam hati ketika saya melongoknya lewat gang kecil disebelahnya, setelah muter-muter cari jalan alternative untuk sampai ke TKP.
Botol-botol kratingdaeng masih berdiri, beberapa botol minuman keras entah dengan merk apa masih tegak, diantara perabotan seperti kursi dan sebagainya yang gosong-gosong dimakan api.

Di depan Sari Club, didepan police line yang terbentang saya berdiri. Saya lihat lubang besar menganga dijalanan tepat di depan Sari Club, sementara Sari Club sendiri sudah porak-poranda. Karangan bunga dan ucapan duka cita terhampar di depan Sari Club. Foto-foto kekasih, sahabat, anak atau siapapun yang hilang banyak tertempel disana termasuk boneka kesayangannya atau bahkan sandal jepit yang terakhir mereka gunakan. Lilin-lilin dinyalakan sebagai penanda duka cita, menggiringmu untuk ikut menangisinya. Beruntunglah saya karena saya hadir di TKP dalam kondisi sudah lebih baik, saat semua puing sudah dibersihkan.

Andai saja mereka dengar ketika seorang anak berkata ‘Kak, saya mungkin takkan les lagi, karena Bapak saya kena PHK’ seperti yang diceritakan teman saya.
Andai saja mereka mendengar banyak anak enggan sekolah karena trauma.
Andai saja mereka menyaksikan orang-orang yang tak bias nyenyak karena merasa mendengar tangis dan jerit tak berdaya di lokasi kejadian.
Andai saja mereka menyaksikan bagaimana banyak kehidupan yang tak ada kaitannya dengan perjuangan mereka terampas dan menimbulkan kedukaan.

Itukah harga yang pantas untuk sebuah perjuangan, sebuah jihad demi memerangi kebatilan (dalam hal ini Amerika)? Pertanyaan itu berurai dimana-mana, termasuk di otak saya.
Jika semua terjadi karena cinta, pada agama, pada keyakinan kita dibenarkankah kita menyakiti manusia karenanya?


pic : taken from http://upload.wikimedia.org/

No comments:

Post a Comment