Friday, May 30, 2008

JOGJA DAN KENANGAN TENTANGNYA


Ketemuan sama aku di Jogja yuk. Aku memang punya planning kesana akhir pekan nanti, sekadar memenuhi kerinduan pada kotanya yang mempesona sembari bertemu sahabat lama.

Ah ngomongin Jogja kok jadi ingat dia ya? Dia yang memaksaku bermain peran sebagai si tegar dalam drama satu babak yang berjudul “ Mengejar Cinta Sampai Ke Jogja”. Dia yang membuatku meninggalkan Jogja dengan hati yang luka ( it sounds like a betharia sonata’s song ya?) karena dia sibuk dengan kegundahan hatinya. Sebuah kegundahan berjudul diantara dua pilihan seperti judul sinetron jadul yang entah siapa pemainnya.

Hmffhf! Kalo ingat pengen deh nendang itu orang sampai ke korea. Kok bisa? Kok tega-teganya dia memperlakukanku sedemikian rupa? Siapa sih dia? Kalo tahu gitu kenapa dulu kasih lampu ijo sekalian tanda-tanda belok kiri jalan terus ke hatinya jika akhirnya dengan enteng dia meneriakkan kalimat “ aku tengah dekat dengannya sekarang..naga-naganya aku milih dia “ lewat matanya yang tak bisa lurus menatapku.

Well ya, aku telah melihatnya, perempuan yang mengambil hatinya. Dan itu pertanda keras agar kutinggalkan saja Jogja, yang setelahnya sempat bikin aku eneg jika mendengar nama kota itu disebut siapa saja. Bukan itu saja tiap kali warna ijo warna bendera kebesaran pertanian berkibar, mendadak saja aku jadi sebal. Apa pasal? Karena warna itu mengingatkanku pada warna ijo lampu lalin pertanda siap jalan, yang sempat ia suarkan untukku ,yang bikin aku berpikir he is the one dan ternyata menyesatkan. Sialan!

Ah, itu dulu. Apa kabarnya kini ya? Dan gubraakz…baru mikirin lah kok ketemu dia di halte bis kota pas mau berangkat kerja. Sumpe lo, aku tercengang melihatnya. Dia nggak sehebat yang tersimpan di otak.

Tahun berapa sih ini ya? Kok penampilannya malah selusuh pria-pria jaman perang?

“ Kamu tinggal dimana?” pertanyaan super basi setelah basa-basi

“ Disini aja,” balasnya penuh misteri. “ Kamu kerja apa sekarang?”

Apa ya nama bidang yang kugeluti sekarang? Susah ngejelasinnya

“ Biotek,” jawabku singkat.

“ Apa sih biotek?”

Bujubunneeeeng…biotek enggak ngerti? Subhanallah, mati aku! Hari gini gak ngerti biotek, surat kabar banyak, televisi terbuka lebar, internet tinggal klik kok ya masih ada aja yang ketinggalan informasi.

“ Lah kamu sendiri kerja dimana?”

“ Disini aja,” jawabnya.

Sialan! Sok penuh misteri amat nih orang. Takut aku nyamperin rumahmu ya? Enggak lah yawww!

“ Oh disini? Di halte ini?” kataku asal.

Dia cengengesan. Dan iih…kok sambil liuran. Hooh! Liur! Itu lho cairan agak kental yang nongol dari sudut bibir manusia kalo lagi mupeng atau tidur nyenyak. Idiiih! Ku ucek-ucek lagi mata, tetep aja si liur ada. Dan ia malah mengusapnya pake tangannnya

Ampuun deh…masa sih dulu aku pernah termehe-mehe padanya? Gak percaya..gak percaya! Uh, andai saja aku jadi tangannya atau bagian tubuhnya yang mana aja aku pasti tengsin. Gimana enggak, kalo liur netes pas lagi di depan perempuan, bekas pacar pula. Yaa salam…Duh kenapa tadi enggak dandan habis-habisan ya? Coba aja ketemu dia pas aku lagi dandan ruaarrr biasa, nggak tahu deh bakalan lewat mana lagi itu liur netes meruah hingga jadi kolam.

“ Hah, dia suka kamu kali. Terpesona,” teman sekantorku ngakak dengar aku bercerita.

“ Iya kali ya.”

“ Dia pasti nyesel waktu itu nggak milih kamu aja.”

Bwahahahahahaha! Iya kali ya…apalagi kalo melihat bagaimana diriku sekarang. Well thanks Allah kok dulu Engkau membuatku berpisah dengannnya, pria yang tak punya ketetapan hati dan seringkali membuatku merana karena keberadaannya yang sulit terlacak, timbul tenggelam sulit dipegang.

Maafkan aku, Ya Allah, dulu sempat aku menyesal dan mengeluh padamu karena rasa sakit yang ditinggalkannya. Tahun berlalu dan hari berganti baru kini aku tahu jawaban pertanyaan mengapa Engkau tak mengijinkanku dekat dengannya…

Done, 290508, 15:35

Based on my daily funny story

Thanks to Anesa, Si Cirebon tea, thanks yah, Bu…

No comments:

Post a Comment