Tuesday, June 3, 2008

UNTUK SUKRI GITARIS AMATIR : KETIKA CINTAMU MENYUSAHKAN


taken from : http://mihasa.punt.nl/

Cinta itu memang buta, Kri. Membutakan mata dan hati yang kau punya ( dan aku menangisinya)

Apa itu cinta, Kri? Apakah hanya sekedar kecupan dan belaian yang terangkum lewat kehangatan jemari lentik, bibir ranum, suara lembut memanja (yang sesungguhnya mengintimidasi jiwa) ditengah harum wangi tubuhnya yang menguar? Itukah cinta? (dan aku menangisinya)

Apa itu cinta, Kri? Jika benar cinta itu pengorbanan, hati siapa sesungguhnya yang kau korbankan? Rasa cinta mana yang tega kau siakan demi sepotong cinta yang datang belakangan? Hitunglah, berapa puluh tahun dalam usiamu itu engkau mendapatkan cinta ayah bunda! Hitunglah berapa banyak yang ia berikan dibanding apa yang mereka berikan?! (dan aku menangisinya)

Apa itu cinta, Kri? Jika benar cinta itu seolah lilin yang rela terbakar demi memberi terang, maka kesia-siaan mana yang mau kau ajukan jika kau abaikan cinta orang-orang tersayang?! Orang-orang yang menangisimu kala kamu sakit, berdiri dibelakangmu kala kamu membutuhkan back up, menyodorkan bahu saat kamu butuh bersandar, yang berkata padamu ‘apa kamu baik-baik saja? Sudah makan? Sholat yang rajin ya…’ (dan aku menangisinya)

Apa itu cinta, Kri? Jika benar cinta itu menghangatkan, maka kali ini kau telah menebarkan badai salju sebelum musim semi berakhir. Kau tusukkan dingin itu tanpa perasaan pada orang-orang yang menyayangimu sepanjang hidupmu. (Dan aku menangisinya)

Katakan padaku, Kri, apa itu cinta? Jika benar cinta itu harusnya menyembuhkan, maka apa yang kau lakukan sekarang justru sebaliknya. Kau buat semua orang kesakitan, terganggu perasaannya, demi kebahagiaan yang kau inginkan dari sepotong cintanya. (dan aku tak rela karenanya)

Katakan padaku, Kri, apa itu cinta? Jika benar cinta itu seharusnya memberi jembatan, kau justru telah menggali jurang yang dalam.(Dan aku tak mengerti mengapa kau melakukannya)

Mana, mana itu gitar kesayanganmu? Ingin saja kupukul pantatmu dengan gitar itu.

Sungguh cinta telah membuatmu lemah, kehilangan jati diri dan menye-menye karena sebuah kerinduan.

Sebagai sahabat dan saudara aku telah kehilanganmu, bukan saja perlahan tapi secara keseluruhan (dan aku menangisinya semalaman).

Jika kau percaya ia adalah teman terbaikmu, harusnya ia bisa mengobati jiwamu yang sakit itu, bukan malah menyiramnya dengan minyak hingga kamu kebakaran. Lihatlah semua dari sudut pandang yang berbeda, Kri, dan kamu akan temukan satu sisi yang menenangkan.

Cobalah renungkan ini, Kri, renungan tanggal 15 November dari bukunya Anand Krishna ini ;

15 November

Kacamatamu menggunakan lensa berwarna dan lewat lensa itu kamu melihat dunia. Perbaikilah penglihatanmu dan semuanya akan menjadi baik. Ubahlah dirimu dan dunia akan berubah

(Sri Sathya Sai Baba)

taken from Renungan Harian " Penunjang Meditasi" (Anand Krishna hal 372)

Entahlah Kri, entahlah. Mungkin inilah cara Allah menunjukkan padaku agar aku belajar ikhlas sebagai saudara dan sahabat …belajar ikhlas dan memandang segala sesuatu dari sudut pandang kejernihan. Ikhlas jika perkataan yang kudengungkan hanya kau dengar tak kau jadikan pertimbangan.

Ikhlas bahwa ada kalanya aka harus diam dan mendoakanmu dari kejauhan untuk meniti jembatan rapuh yang acap kali goyang-goyang ketika kau melintas.

Jangan pikir aku membencimu dalam kata-kataku yang sekeras itu. Aku menyayangimu, sangat…sangat menyayangimu. Tapi maafkan aku jika aku tak memberi dukungan padamu kali ini. Maafkan aku karena berseberangan denganmu inginmu kali.

Betapa kejadian kali ini mengajarkanku akan sesuatu, Kri, menyayangi itu jangan mengharapkan sesuatu. Sekaligus belajar menyadari dalam situasi begini kemarahan yang meluap hanya akan mendatangkan kedengkian. " Sungguh hebat Allah menempatkan kedengkian itu, Ia sungguh adil, berawal dari pertemanan (in case persaudaraan) lalu membunuhmu," itulah yang kubaca dalam La Tahzan. Entahlah, Kri...entahlah. Tiba-tiba saja sesuatu seolah mengingatkan padaku, jika ini terjadi padaku mampukah aku berpikir dengan seluruh kejernihan hati dan pikiran? Tiba-tiba saja aku seolah diingatkan, betapa beratnya mencintai manusia itu.

Dalam tangis, susah dan sedihku untuk saudara dan sahabat tercintaku (semoga saja kita bisa sekuat Ikal dan Arai-nya Andrea Hirata)

Thanks to Renungan Harian (Anand Krishna), Ipang BIP’s Songs, Ketika Cinta Bertasbih, La Tahzan,Andrea Hirata

No comments:

Post a Comment